Kelembapan tinggi dan udara dekat laut memperpendek umur banyak material yang di tempat lain awet bertahun-tahun.
Material yang awet di daerah kering belum tentu awet di Bali. Kelembapan tinggi sepanjang tahun, hujan deras musiman, dan kandungan garam di udara pesisir mempercepat kerusakan dengan cara yang sering tidak diantisipasi.
Pada pekerjaan logam, jarak ke laut adalah penentu utama. Struktur baja di lokasi dekat pantai memerlukan lapisan pelindung anti-karat sebelum finishing akhir. Melewatkan tahap ini mungkin tidak terlihat akibatnya pada tahun pertama, tetapi akan sangat terasa pada tahun ketiga.
Pada kayu, yang menentukan bukan hanya jenisnya tetapi juga tingkat kekeringannya saat dipasang. Kayu yang belum cukup kering akan menyusut setelah terpasang, meninggalkan celah pada sambungan dan pintu yang sulit ditutup. Kayu jati solid tetap menjadi pilihan yang andal, dengan catatan kadar airnya terkendali.
Untuk permukaan lembap seperti kamar mandi dan dapur, pertimbangan utamanya adalah bagaimana air keluar, bukan sekadar material apa yang dipakai. Kemiringan lantai dan posisi lubang buangan menentukan apakah air menggenang atau mengalir. Finishing termahal pun akan rusak bila air berdiam terlalu lama.
Batu alam memberi karakter yang kuat dan cocok dengan arsitektur setempat, tetapi sifatnya menyerap air. Pada area yang teduh dan lembap, batu alam tanpa pelapis akan ditumbuhi lumut. Ini bukan kerusakan, melainkan kebutuhan perawatan berkala yang perlu disepakati sejak awal.
Pertanyaan yang lebih berguna daripada "material mana yang paling bagus" adalah "berapa banyak perawatan yang bersedia dilakukan setiap tahun". Jawaban itulah yang sebaiknya menentukan pilihan finishing.