Beberapa pekerjaan terlihat bisa dikerjakan kapan saja, padahal urutannya menentukan apakah nanti perlu dibongkar ulang.
Pada proyek yang berjalan lancar, urutan pekerjaan terlihat sepele. Pada proyek yang bermasalah, urutan itulah yang biasanya menjadi penyebabnya.
Instalasi listrik dan air adalah contoh paling sering. Jalur pipa dan kabel harus sudah dipastikan sebelum dinding diplester. Perubahan posisi stopkontak atau titik lampu setelah dinding halus berarti membobok, menanam ulang, lalu memperbaiki plesteran. Pekerjaan yang semestinya sekali jalan menjadi tiga kali.
Plafon dan pencahayaan juga berpasangan. Jenis lampu menentukan kedalaman rangka plafon. Memutuskan memakai lampu tanam setelah rangka terpasang sering berarti rangka harus diturunkan, dan tinggi ruang berkurang.
Pada pekerjaan eksterior, lanskap sebaiknya dikerjakan setelah pekerjaan berat selesai. Taman yang ditata lebih dulu akan dilintasi truk, diinjak pekerja, dan tertimbun sisa material. Penataan ulang setelah itu adalah biaya yang sepenuhnya bisa dihindari.
Khusus di Bali, ada pertimbangan tambahan. Pembangunan merajan dan elemen suci lain umumnya mengikuti perhitungan hari baik. Ini bukan hambatan, tetapi harus masuk jadwal sejak awal agar tidak menabrak pekerjaan lain yang sudah dijadwalkan.
Musim hujan juga perlu diperhitungkan. Pekerjaan atap dan pengecatan luar sangat bergantung cuaca. Menjadwalkan keduanya di puncak musim hujan berarti menerima kemunduran yang sebenarnya bisa diperkirakan sejak awal.
Urutan yang baik tidak membuat proyek selesai lebih cepat dari semestinya. Tapi ia mencegah pekerjaan yang sama dikerjakan dua kali.